Segitiga Masalembo - The Indonesian “Bermuda Triangle”

masalembo-triangle.gifDua
kecelakaan lalulintas pada awal tahun ini sangat memperihatinkan. Yang
pertamana kecelakaan lalulintas laut yang menimpa kapal laut Senopati
Nusantara, yang kedua kecelakaan Pesawat Adam Air. Keduanya diduga
terjadi pada waktu yang berdekatan di kawasan yang sama berdekatan juga di laut Utara Jawa, dan yang satu di seputar Masalembo.

Duapuluh enam tahun yang lalu KM Tampomas II terbakar di laut dan
karam pada tanggal 27 Januari 1981. Ah kenapa pada bulan-bulan yang
sama ya ? memang bulan-bulan ini merupakan bulan-bulan puncak perubahan
musim seantero Indonesia yang kepulauannya berada di sekitar
katulistiwa.

Tetapi kenapa kejadian kecelakaan ini di lokasi yang kira-kira sama ?
Ah jangan-jangan barangkali mungkin saja …

Pulau Masalembo sebenarnya sebuah pulau kecil yang berada di ujung
Paparan Sunda (hayo masih ingat Paparan Sunda dan Paparan Sahul nggak
?, ini pelajaran SD dulu kan ?). Pulau-pulau kecil ini berada di daerah
“pertigaan” laut yaitu laut jawa yang berarah barat timur dan selat
Makassar yang memotong berarah utara-selatan.

Pola kedalaman laut di Segitiga Masalembo ini sangat jelas
menunjukkan bentuk segitiga yang nyaris sempurna berupa segitiga sama
sisi. Lihat gambar dibawah.

masalembo-triangle.gif

Pada peta kedalaman laut atau peta bathymetri diatas dapat dilihat
adanya bentuk kepulauan yang berbentuk segitiga. Tinggian yang terdiri
beberapa pulau-pulau ini saya sebut sebagai “SEGITIGA MASALEMBO” atau “THE MASALEMBO TRIANGLE“.
Nah, ada apa saja di daerah seputaran Segitiga Masalembo ini. Coba kita buka-buka
dikit-dikit ya. Tapi jangan mengharap banyak dari sisi mistisnya, akan
lebih banyak saya urai sisi kebumian dan kelautannya saja D

world-triangle.gif

Pertemuan ARLINDO (Arus Laut Indonesia)

arlindo - Arus Laut Indonesia Indonesian Throughflow (ARLINDO), indicate the relationship between the relationship between ARLINDO and El-Nino Southern Oscillation (ENSO) (Source, Gordon, A., 1998)

Di atas ini digambarkan arus laut di Indonesia, terutama Indonesia
Timur. Coba perhatikan arus yang melewati Segitiga Masalembo ini. Pada
bagian atas (garis hijau) menunjukkan air laut mengalir dari barat
memanjang di Laut Jawa, berupa monsoonal stream atau arus musiman. Arus
ini sangat dipengaruhi oleh cuaca dan musim. Sedangkan dari Selat
Makassar ada arus lain dari utara yang merupakan thermoklin, atau
aliran air laut akibat perbedaan suhu lautan. Kedua arus ini bertemu di
sekitar Segitiga Masalembo.

Yah, tentusaja arus ini akan sangat mempengaruhi pelayaran laut
disini. Arus musiman ini sangat dipengaruhi juga oleh suhu air laut
akibat pemanasan matahari tentusaja. Kalau anda masih inget bahwa
lintasan matahari itu bergerak bergeser ke-utara-selatan dengan siklus
tahunan. Itulah sebabnya pada bulan-bulan Januari yang merupakan saat
perubahan arus musiman (monsoon).

Apa menariknya dari ARLINDO ini ? Arus ini membawa air laut dingin
dari Samodra Pasifik ke Samodera Indonesia diduga dengan debit hingga 15 juta meterkubik perdetik !!! Dan hampir keseluruhannya melalui Selat Makassar !

Tentunya aliran air sebesar ini bukan sekedar aliran air saja.
Banyak aspek lain yang ikut mengalir dengan aliran air sebanyak itu,
misalnya akan terdapat pula aliran ikan-ikan laut, aliran sedimen laut,
juga aliran temperatur air. Apa saja efek aliran ini dengan proses
kelautannya sendiri ? Wah tentunya banyak sekali

Kalau digambarkan secara mudah barangkali profil selat makassar dapat dilihat seperti dibawah ini.

labani-channel.png

Pada profil dasar selat Makassar diatas terlihat batuan kalimantan
dan batuan sulawesi berbeda, kalau masih ingat yang aku tulis tentang
pembentukan Patahan-patahan di Jawa di tulisan sebelumnya disini, maka tentunya mudah dimengerti. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan mencolok antara Indonesia barat dengan Indonesia Timur, seperti yg ditulis disini sebelumnya.
Kalimantan merupakan bagian dari Paparan Sunda (Indonesia Barat) sedang
Sulawesi merupakan bagian dari Indonesia Timur. Nah garis yang
membaginya dulu diketemukan oleh Wallace disebut sebagai Garis Wallace (Wallace Line).
Garis Wallace ini sebenernya hasil penelitian satwa Indonesia
Barat-Timur, namun sebenarnya ada juga implikasi atau manifestasi dari
aspek geologis (batuan penyusunnya).

Dari Batuannya kita tahu bahwa dibawah selat makasar ini terdapat
tempat yang sangat kompleks geologinya, diatasnya terdapat selat
Makassar yang juga memilki karakter khusus di dunia ini dimana
mengalirkan air yang sangat besar.

Apa yang terlihat lagi ? Ya tentunya ada aspek meteorologis yang
memisahkan antara daerah diatas air dengan daerah diatas daratan yaitu
awan. Awan merupakan fenomena khusus yang paling banyak dijumpai diatas
daratan. Itulas sebabnya kalau sedang di tengah laut coba tengok ke
atas, carilah awan. Awan yang berarak akan lebih banya terdapat di
daratan ketimbang di atas lautan seperti gambaran diatas.

sumber www.e-dukasi.netApa lagi selain awan ?
Angin, ya angin juga akan berhembus karena perbedaan tekanan udara
panas. Pada malam hari saat bertiupnya angin darat, para nelayan pergi
menangkap ikan di laut. Sebaliknya pada siang hari saat bertiupnya
angin laut, para nelayan.

Perubahan angin darat laut karena suhu ini berubah dalam siklus
harian, namun tentunya ada juga siklus tahunannya atau disebut siklus
monsoon. Looh Monsoon, kok sepertinya juga ada monsoonal stream yang
ada di Arlindo digambar atas. Ya, memang itulah siklus-siklus arus
angin, siklus air itu bertemu bercampur di segitiga Masalembo ini.
Runyem kan ?

Seringkali daerah Segitiga Bermuda dihubungkan dengan kondisi magnetisme. Adakah peta magnetik daerah Segitiga Masalembo ini ?

Nah aku beri sekarang  peta deklinasi  magnetik  secara global seperti dibawah ini.

magnetic-field-intensity.gif magnetic-field-declination.gif magnetic-field-declination-change.gif

Tiga peta diatas menunjukkan intesitas magnetik total, peta
deklinasi, dan perubahan deklinasi tahunan (sumber NOAA). Kalau
tertarik detilnya tinggal di klik saja. Yang dapat dilihat dalam ketiga
peta itu adalah, tidak adanya sesuatu yang mencolok baik di Segitiga
Bermuda maupun di Segitiga Masalembo. Memang sejak dulu seringkali yang
menyatakan adanya keanehan kompas magnetik apabila melalui daerah angker
ini. Secara fisik (pengukuran magnetik) tidak terlihat anomali itu.
Hanya terlihat bahwa Indonesia secara umum merupakan daerah yang
memiliki deklinasi dan iklinasi sangat kecil. Dan merupakan daerah yang
memiliki total intensitas magnetik rendah, barangkali karena Indonesia
merupakan daerah yang relatif “muda” dibandingkan daerah2 lain.

Kalau dibandingkan dengan Segitiga Bermuda, lokasi Segitiga Masalembo juga tidak menunjukkan keanehannya. Sepertinya keangkeran
segitiga Masalembo ini lebih ditentukan oleh faktor gangguan alamiah
yang bukan mistis. Yang mungkin paling dominan adalah faktor meteorologis termasuk didalamnya faktor cuaca,
termasuk didalamnya angin, hujan, awan, kelembaban air dan suhu udara
yang mungkin memang merupakan manifestasi dari konfigurasi batuan serta
kondisi geologi, oceaografi serta geografi yang sangat unik.

maslembo-triangle

Kalau memang Masalembo Triangle ini banyak
menimbulkan masalah transportasi (lalulintas), tentunya perlu
rambu-rambu lalulintas laut yang lebih canggih ditempatkan di lokasi
ini. Tetapi bukan berarti zona terlarang masa sih kita tidak boleh
melewatinya sepanjang masa. Misalnya mercusuar khusus, penempatan radar
pemantau. Juga yang tak kalah penting penelitian saintifik tentang
perilaku arus air laut, serta cuaca di daerah ini.

Leave a Reply